Jumat, 09 Oktober 2009

Project Public Relations about Pertamina at London School of Public Relations

MEDIA CONTENT ANALYSIS

1. Dalam suatu focus group discussion untuk kelompok pengendara motor ditanyakan : Umpama Pertamina diandaikan sebagai seorang manusia, bagaimana kira- kira karakternya? Jawaban dari peserta yang terdiri atas sekitar 8 orang itu antara lain ialah : kumal, licik, nakal , curang dan beberapa predikat negatif lainnya. Apa artinya ini semua? Artinya adalah persepsi sebagian publik terhadap perusahaan kita masih negatif, paling tidak seperti itulah yang ditangkap oleh beberapa orang peserta focus group discussion tersebut.

Bagaimana dengan citra perusahaan (company image)? Apa saja yang memiliki dampak terhadap citra ? Perusahaan merupakan suatu entitas bisnis di mana didalamnya terdapat orang-orang yang mengelola dan menjalankan perusahaan, terdapat sistem dan aturan main serta budaya perusahaan. Selain itu perusahaan juga menghasilkan produk yang bisa berupa barang atau jasa.

Hal ini juga brkaitan dengan SDM, sistem dan aturan main serta budaya perusahaan. Sistem yang birokratis membuat SDM mani-pulatif. SDM manipulatif memunculkan budaya yang negatif. Kinerja bisnis menjadi buruk, akhirnya mengakibatkan jatuhnya citra perusahaan.

2. Andi F. Noya, pemimpin Redaksi Metro TV ini diundang oleh Pertamina untuk menjadi pembicara dalam workshop Pelatihan Media pada Jumat (23/3). Andy yang saat itu mengenakan ke-meja lengan panjang berwarna putih dengan dasi berwarna gelap mempresentasikan pola hubungan yang sebaiknya dijalin antara Per-tamina dengan media, terutama wartawan.

Andy di beri pertanyaan seperti ini : Bagaimana pandangan Andy tentang Pertamina, Andy terdiam sejenak, sebelum menjawab. “Pertamina ini salah satu ya...dari aset bangsa yang menjadi simbol,” katanya memberikan pandangannya.

Namun, lanjutnya, hal tersebut belum disadari oleh banyak orang dan Pertamina justru sering menjadi sumber kesalahan. “Per-tamina itu sarang koruptor,” katanya menge-nai persepsi masyarakat tentang Pertamina. ”Padahal itu ‘kan tahun 1970-an.”

Menurut Andy ini hanya merupakan pendapat masyarakat semata karena kurangnya keterbukaan, dan tidak ada komunikasi antara pehak pertamina dengan masyarakat di Indonesia. Artinya, dari segi frekuensi komunikasi dengan masyarakat, dengan pers, kemudian juga bagaimana cara menyampaikan kepada masyarakat atau menggunakan media yang tepat, agar masyarakat bisa memahami ini melalui media-media yang sebut saja, menjadi stakeholder-nya Pertamina,” paparnya tentang bagaimana mengubah stigma yang terlanjur sudah ada di benak masyarakat.

Selain itu pertamina perlu memperluas promosi. Iklan juga dapat dijadikan sebagai sarana yang sangat penting sebagai bagian dari strategi marketing.Kurangnya kebersihan, kerapihan, pelayanan, keramahan. Kejujuran.

v Upaya-upaya yang telah dilakukan pertamina untuk memperbaiki citra pertamina di kalangan masyarakat, antara lain :

1. Citra produk merupakan persepsi masya-rakat terhadap produk yang dihasilkan per-usahaan. Citra ] produk dibangun agar menjadi postitif di mata publik, baik publik yang telah menggunakan produk itu maupun potensial customer yang hendak dibidik agar mengkon-sumsi produk tersebut. Manakala citra suatu merek produk telah menancap dalam pikiran konsumen, maka pada saat dia mempunyai rencana untuk membeli barang sejenis produk tersebut , yang pertama kali muncul dalam ingatan adalah merek produk yang sudah tertancap di pikirannya . Sehingga secara reflek mereka membelinya.

2. Management commitement mejadi modal utama untuk membangun citra perusahaan. Atmosfer dan perilaku sosial masyarakat Indonesia yang cenderung paternalistis menjadikan modal utama ini sangat dibutuhkan. Data empiris menunjukkan bahwa dinamika citra perusahaan sangat sentitif terhadap dinamika perusahaan, dinamika SDM perusahaan dan dinamika masyarakat. Rencana membangun citra perlu difasilitasi dengan mekanisme pengukuran sejauh mana keberhasilan dan feedback untuk rencana improvement-nya. Untuk itu setiap tahapan pembangunan citra perusahaan diidentifikasi dan ditetapkan apa ukuran keberhasilannya.

Citra produk akan meningkat apabila produk bermutu tinggi dan terus-menerus mengalami perbaikan. Mutu produk diba-ngun dengan cara melakukan continuous improvement di segala aspek. Peningkatan kualitas perlu dibarengi dengan promosi memperkenalkan keunggulan produk terse-but.

Selain itu perusahaan menggunakan prinsip Balance Score Card (BSC) untuk mengukur kinerja bisnisnya. Metode ini mengukur kinerja perusahaan dari 4 (empat) perspektif yaitu customer perspective (perspektif pelanggan), internal business perspective (perspektif proses bisnis internal), finance perspective (perspektif keuangan) dan learning and growth perspective (perspektif pembelajaran dan pertum-buhan). Selain BSC banyak juga perusahaan yang mempergunakan kriteria MBNQA (Malcolm Baldrige National Quality Awards). MBNQA memotret perusahaan pada 7 (tujuh) kategori yaitu : kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pelanggan dan pasar, pengukuran dan manajemen penge-tahuan, fokus SDM , proses bisnis dan hasil-hasil bisnis. Pertamina mengadopsi kriteria MBNQA menjadi kriteria ekselen PQA (Pertamina Quality Award). Yang lebih penting dari pengukuran ini ialah tindak lanjut improvement- nya.

Citra SDM meliputi profesionalisme, attitude dan moral. Walaupun pekerja suatu perusahaan sangat profesional namun kalau moral dan attitude-nya tidak bagus akan mencoreng citra perusahaan. Sebaliknya jika pekerjanya memiliki attitude dan moral yang baik namun tidak profesional di bidang pekerjaannya maka kinerja bisnis menjadi buruk.

Keprofesionalan dapat diukur dengan melakukan asessment terhadap kompetensi pekerja, hasil asessment dibandingkan dengan standard kompetensi. Deviasi antara kompetensi pekerja dibandingkan dengan standard kompetensi adalah menjadi bahan bagi perusahaan untuk melakukan up grading kompetensi pekerja, antara lain berupa pendidikan, pelatihan , on the job training dan sebagainya .

Ukuran citra moral dan attitude dapat didekati dengan penerapan kode etik perusahaan (code of conduct). Kode etik yang ditetapkan mengacu kepada ukuran-ukuran norma kebenaran dan etika moral yang berlaku di masyarakat. Perilaku pekerja perusahaan yang bertentangan dengan norma kebenaran dapat menurunkan citra moral perusahaan. Pada gilirannya peru-sahaan akan mengalami kesulitan didalam melaksanakan bisnisnya karena masyarakat sudah antipati pada perusahaan tersebut.

Citra budaya ditentukan oleh sejauh mana perusahaan dapat mengembangkan budaya positifnya. Misalkan sebuah perusahaan menyepakati untuk membangun suatu budaya bersih (clean) , yaitu budaya bisnis yang bersih dari KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) maka yang pertama kali perlu ditetapkan adalah bagaimana ukuran-ukuran kongkret yang dimaksud dengan clean. Selanjutnya dipotret budaya yang saat ini berkembang, sejauh mana derajat kebersihannya, dibandingkan dengan parameter clean yang telah disepakati. Apa-bila ditemukan deviasi disanalah dimulai planning (perencanaan) rekonstruksi budaya clean sebagaimana yang diinginkan. Planning dilengkapi dengan tata waktu dan target pencapaian. Dengan logika TQM (Total Quality Management) diputar rangkaian PDCA (Plan Do Check and Action) secara berkelanjutan hingga dicapai budaya clean tersebut.





Citra perusahaan, setelah dibangun perlu dipelihara, disesuaikan dengan jaman dan dinamika yang berkembang, dijaga dari rongrongan internal maupun serangan dari luar, baik dari pesaing ataupun pihak-pihak yang tidak senang. Tidak kalah pentingnya adalah senantiasa mengkomunikasikan hal-hal positif yang yang ada pada perusahaan kepada publik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar