Kasih.. ya kata kasih sering disebutkan dikalangan kita. Terutama umat kristiani.
Bagi saya kasih adalah sebuah kata yg mengandung makna saling menyayangi, peduli, rela berkorban dan hal2 yg mengandung nilai positif.
Saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya mengenai kasih.
Suatu ketika saya pernah ikut kebaktian tmn2 yg beragama kristen baik di gereja atau di tempat perkumpulan tertentu secara kristen dan Saya sebagai umat katolik jg sering ikut ibadat dan misa di gereja atau tempat tertentu.
Seiringnya waktu berjalan.. kini saya merasa kok ada perbedaan ya, terutama dari makna kata kasih.
Ketika saya bersama mereka yg berimani kristen saya merasa lbh dekat dgn mereka seperti saudara walaupun baru pertama kali kenal. Ada rasa kehangatan dan ketulusan.
Dan ketika saya bersama mereka yg berimani katolik saya juga merasa demikian.
Tetapi seiring waktu berjalan saya merasa ada yang palsu. Ada beberapa kasus yg akan saya sharingkan dibawah ini. Dari kasus-kasus yang saya paparkan membuat saya semakin peka dan lebih mengimani kristus. Secara sadar saya peka dengan mereka yg ada disekeliling saya.
1. Kasus pertama :
Ada yang membawa makna kasih itu hanya dengan orang-orang tertentu. Berkoar-koar, akrab, bersikap baik seolah-olah mereka punya kasih untuk semua orang yg bisa dibagikan untuk orang lain. Tetapi setelah mendapatkan cerita tentang siapa orang itu sebenarnya. Ko rasanya hanya kliatan omong kosong. Justru sebaliknya. Ya biasa.. mungkin untuk menutupi kelemahan. Saya kecewa dengan orang2 seperti ini. Berikut dibawah akan saya paparkan hal-hal nyata yg membuat saya kecewa terhadap orang pertama ini.
Suatu ketika ada permasalahan antara sepasang anak. Anak yang pertama adalah anak berimani katolik dan anak lainnya atau yang kedua adalah anak yang belum mengimani katolik tetapi akan mengimani katolik. Singkat cerita permasalahan ini berawal dari sekolah dan hanya masalah antara si anak saja. Tetapi masalah ini berlanjut ke masalah orang tuanya bahkan berlanjut lagi menjadi masalah keluarga inti, berkembang pula menjadi masalah keluarga besar bahkan tumbuh menjadi masalah sekelompok orang.
Masalah ini akarnya terus berkembang namun yang mengembangkan hanya dari pihak pertama saja. Sedangkan pihak kedua lebih memilih jalan lain untuk tidak mengembangkannya. Pihak pertama memperlihatkan bahwa kini masalah dari anak-anak sudah tumbuh menjadi masalah yg menjadi kebencian dan dendam. Si anak ke 2 dijauhi oleh pihak pertama dan sekelompok orang yang mengaku dirinya beriman katolik dan mebagikan kasih. karena masalah ini juga pihak kedua mulai menjauhi iman katolik dan mempertanyakan dimana makna kasih sesungguhnya? Bukankah makna kasih itu saling menyayangi, merangkul semua orang sekalipun berbeda agama. Namun.. karena sikap pihak pertama dan sekelompok orang tadi bertentangan dgn makna kasih. Pihak ke 2 sepertinya semakin yakin utk tidak dibabtis alias tdk katolik karena sebenarnya ia sedang mendalami iman katolik namun ia tidak merasakan adamya kedamaian, persaudaraan dalam kasih. Mungkin alasannya bukan cuma itu saja. Demikian crita dari kasus pertama.
Jujur ketika menulis cerita kasus ini saya takut karena saya merasa dekat dengan kedua pihak tersebut. Saya takut dijauhi jg oleh pihak pertama. Saya takut kalau ada menyinggung perasaan pihak ke 2 yg kini lebih banyak diam.
Tetapi yang saya mau angkat dr kasus pertama ini adalah makna kasih sesungguhnya.
Bagi para pembaca. Mohon jangan pernah menilai seseorang beriman tinggi hanya dengan melihat orang tersebut aktif, rajin ke gereja, dan suka mensebut-sebut kata kasih.
Dari kasus pertama ini terlihat jelas kepalsuannya. Bahwa orang yg aktif dan rajin ke gereja tersebut belum melakukan makna kasih. PLEASE DON'Y JUDGE THE BOOK BY THE COVER.
Saya masih ingin cerita dgn memberi contoh dari kasus- kasus lainnya ditunggu ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar