Jumat, 14 September 2012

Hanya sebuah cerita :-)

Curhatan Seorang Bapak Kepada Anaknya.

Kisah nyata ini menjadikan sumber inspirasi dan motivasi penulis dalam berkarya.


Diawal pensiunnya seorang Bapak bercerita dan berpesan kepada Anaknya.

Kata Si Bapak       : Dek, kalau bisa kamu bekerja di pemerintahan Negeri ya.


Si Anak  berkata   : Emang kenapa Pak?


Kata Si Bapak   : Bapak tidak ingin kamu seperti Bapak yang bekerja di swasta seperti Habis Manis Sepah dibuang.                


Si Anak berkata    : Loh kok seperti itu Pak?


Kata Si Bapak  : Yahhh.. Bapak juga tidak tahu. Mungkin Bapak hanya dianggap sebgai orang yang sudah tua dan tidak mampu bekerja lagi. Bapak sudah berusaha bicara dari hati ke hati lewat selembar kertas namun itupun tak berguna. 


Si Anak berkata    : Oh Surat yang waktu itu aku ketik ya, pa?


Kata Si Bapak : Iya betul.Bapak hanya ingin melihat kamu sukses menyelesaikan studi belajar. Namun, ketika keputusan pensiun itu keluar Bapak hanya terdiam, Bapak bersyukur, berpikir positif bahwa memang sudah saatnya saya istirahat dan berdoa semoga Tuhan tetap sayang sama kita, dan Bapak diberikan rejeki lebih sama Tuhan.

Si Anak berkata  : Syukur kalau Bapak masih ingat kalau Tuhan sayang Bapak (sambil menahan tetesan air mata yang tidak ingin dilihat oleh Bapaknya).


Suasana hening sejenak dan kemudian Bapak itu melanjutkan ceritanya.


Kata Si Bapak     : Dek Bapak sungguh merasa tidak dihargai oleh Pimpinan. Surat Pensiun itu datang dari tangan orang lain. Dalam surat itu terdapat bekas tipe-x. Bapak sempat berpikir ini surat resmi atau bukannya. Namun setelah Bapak baca sampai bawah ini memang sungguh surat resmi ada tanda tangan seorang pemimpin dibawahnya.


Si Anak berkata   : Maaf pa, aku belum bisa banyak membantu. Bapak yang sabar ya, semua akan indah pada waktunya. Tuhan Yesus selalu menyertai kita sekeluarga Pa. Jangan terlalu dipikirkan perkataan dan perbuatan negatif dari orang lain. Sekarang Bapak tidak boleh sedih. Bapak harus yakin bahwa AnakMu ini nantinya pasti layak untuk dibanggakan.


Demikian kisah nyata hanya sebuah curhatan seorang Bapak kepada Anaknya. Jika anda membaca kisah ini dengan hati tulus pasti anda bisa merasakan sakit hati atau bahkan luka batin yang dirasakan Bapak ini. Mungkin beberapa orang hanya menganggap luka itu hanya perasaan pribadi/bahkan pikiran negatif dari seorang Bapak. Namun, dalam kisah ini tersirat makna kasih sayang. Ketika luka itu terasa sakit seorang Bapak tidak ingin anaknya kelak merasakan Luka seperti yang Ia Alami.

Penulis hanya bisa menuliskan ini saja. Semoga kita yang ada di Bumi sadar bahwa tidak ada satupun manusia Ciptaan Tuhan yang layak diremehkan, tidak dihargai ataupun direndahkan oleh sesamanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar